Kader merupakan istilah kemiliteran atau pertempuran yang berasal dari kata carde, artinya latihan terus menerus dari suatu kekuatan inti yang diperlukan setiap saat. Sedangkan, dalam HMI sendiri kader diartikan sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. Pengertian ini ditegaskan dengan adanya 4 ciri kader :
1. Seorang kader bergerak dan terbentuk dalam organisasi, mengenal aturan-aturan permainan organisasi dan tidak bermain sendiri sesuai dengan selera pribadi.
2. Seorang kader mempunyai komitmen yang terus-menerus (permanen), tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan Istiqomah (konsisten) dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran.
3. Seorang kader memiliki bobot dan kualitas sebagai tulang punggung atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih besar. Jadi, fokus penekanan kaderisasi adalah pada aspek kualitas.
4. Seorang kader memiliki visi dan perhatian yang serius dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan social engineering.
Sebenarnya, HMI sudah cukup dalam menyusun aturan organisasinya. Juga, dalam spesifikasi tujuan, telah dijelaskan secara gamblang. Sosok insan yang memiliki 5 kualitas cita, yang lalu disebut kader dalam prosesnya.
Proses seorang kader menuju kualitas insan cita ini disebut dengan perkaderan yang dalam HMI diartikan sebagai usaha organisasi yang dilakukan secara sadar dan sistematis selaras dengan pedoman perkaderan HMI. Maka, HMI pun sudah mengatur usahanya sedemikian rupa untuk dioperasikan oleh seluruh pemangku perkaderan seluruh elemen HMI.
Bahkan, tujuan HMI yang termaktub dalam pasal 4 AD HMI yang bertuliskan “ Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang Bernafaskan Islam dan Bertanggungjawab atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang di Ridhai Allah SWT” mengandung makna yang mendalam jika seorang kader HMI mau untuk membaca dan memahaminya.
• Kata “Terbinanya...”
Kata ini mengindikasikan adanya suatu proses “pembinaan” sebelum mencapai titik yang disebut “ter-binanya” atau hasil akhir. Suatu proses pembinaan tersebut ialah perkaderan yang sudah dirancang dan disusun untuk dipahami dan dioperasionalkan oleh semua elemen HMI. Dapat kita pahami pula, bahwa HMI merupakan organisasi yang menekankan pada suatu proses dan setiap anggota HMI diharapkan terus menerus berproses untuk mencapai tujuan akhir.
• Kata “Terbinanya Insan....”
Maknanya ialah bahwa HMI adalah organisasi yang berorientasi pada pengembangan individu anggotanya (people oriented). Proses yang dimaksudkan sebelumnya ditujukan pada setiap kader HMI. Proses yang selalu mengembangkan diri seorang kader dalam makna kata “insan” yaitu, manusia dengan kualitas intelektual dan spiritual.
• Kata “Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam dan Bertanggungjawab...”
5 kualitas insan cita yang termaktub diharapkan menjadi hasil dari proses perkaderan HMI. Maka, HMI merupakan organisasi yang berupaya mewujudkan Intellectual Community yang memiliki kesalaehan di setiap individu melalui proses pengembangan kualitas personal. Sehingga, mampu melahirkan Moslem Intellectual Community.
• Kata “Bernafaskan Islam...”
Maknanya, Islam disini dijadikan sebagai seperangkat motivasi yang semestinya digunakan dalam perkaderan dan perjuangan organisasi dalam melakui Al-Qur’an dan Sunnah. Sehingga, hal itu menjadikan HMI sebagai organisasi berasaskan Islam (Pasal 3 AD HMI).
Dalam dokumen organisasi, juga telah dituangkan seperangkat nilai-nilai ideologis yang tidak menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah untuk dijadikan landasan dan motivasi dalam perjuangan, Nilai Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI. Maka, sering sekali saya menyatakan “Apabila seorang kader HMI tidak memahami apa yang menjadi landasan ia berjuang, lantas apa yang sedang ia perjuangkan?”.
• Kata “... Bertanggungjawab atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur...”
Inilah yang dimaksud hasil akhir atau tujuan akhir HMI yang hanya bisa dilaksanakan atau diemban oleh insan cita, yaitu membangun masyarakat/negara ideal (masyarakat madani). Kata “adil makmur” bermakna suatu masyarakat yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan, keduanya tidak bisa dipisahkan. Sehingga, terwujud suatu masyarakat yang bahagia dalam kesejahteraan, baik segi material maupun segi spiritual.
Tugas HMI setelah terwujudnya kesalehan individu ialah mewujudkan kesalehan sosial. Melalui penegakan keadilan sebagai salah satu bentuk ihsan dengan berpegang pada amar ma’ruf nahi munkar untuk membangun masyarakat madani, maka HMI menegaskan jihadnya sebagai organisasi perjuangan.
• Kata “...yang di Ridhai Allah SWT.”
Dari kesalehan individu menuju kesalehan sosial, dan independen etis (individu) menuju independensi organisatoris (organisasi/sosial). Mengapa hal ini berkaitan dengan kata-kata terakhir dalam tujuan HMI?
Hal ini dikarenakan maksud atau tujuan dari segala bentuk usaha dan perjuangan yang dilakukan semata-mata untuk meraih dan mendapat Ridha Tuhan. Maka, semua jihad adalah bentuk pengabdian kepada-Nya dan dengan hanya tunduk kepada-Nya.
Rumusan tujuan HMI, seyogyanya dipahami oleh setiap kader HMI. Karena, mereka yang akan menjadi tulang punggung organisasi untuk mencapai tujuan tersebut. Lalu, jika dipahami lebih mendalam tujuan HMI adalah tujuan personal masing-masing kader baik sebagai hamba, manusia, anak, mahasiswa dan lain-lain. Sehingga, kata-kata “Apa yang bisa organisasi berikan kepada kita?” terjawab dengan sempurna. HMI memberikan pengarahan pada diri masing-masing kader untuk mencapai tujuannya yang juga menjadi bagian dari tujuan organisasi. Sehingga, perlu disadari pula bahwa tujuan organisasi juga merupakan bagian dari tujuan kader itu sendiri.
Referensi :
1. Pedoman Perkaderan HMI
2. Buku Bintang Arasy, Said Muniruddin
0 Komentar